masukkan script iklan disini
Jakarta ( XNEWS24.ID) Wacana besar mengenai reformasi logistik nasional kembali mengemuka. Komisaris PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Arief Poyuono, memperkenalkan konsep ADHARA (Advanced Digital Hub for Adaptive Resource Allocation) sebagai sebuah platform terintegrasi yang diyakini mampu mengubah wajah rantai pasok (supply chain) Indonesia sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.
Menurut Arief, persoalan utama logistik Indonesia bukan lagi semata-mata pembangunan jalan, pelabuhan, maupun gudang. Tantangan terbesar justru terletak pada efisiensi sistem, kepastian waktu pengiriman, administrasi kepabeanan, hingga integrasi data yang selama ini masih berjalan sendiri-sendiri.
Berdasarkan World Bank Logistics Performance Index, biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 23–24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara industri yang hanya sekitar 8–12 persen. Tingginya biaya logistik tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya daya saing produk nasional di pasar internasional.
«"Dalam supply chain modern, keterlambatan pengiriman jauh lebih mahal dibandingkan tarif logistik yang tinggi. Industri global hidup dengan sistem just in time production sehingga kepastian waktu menjadi faktor utama," ujar Arief.»
Ia menegaskan reformasi logistik tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi harus menyentuh reformasi sistem secara menyeluruh melalui digitalisasi dan integrasi layanan.
Arief menawarkan sejumlah langkah strategis, antara lain penerapan pre-clearance customs, pertukaran data logistik nasional secara terpadu, pengaturan waktu operasional truk (time-slot trucking), pembangunan bonded logistics hub, hingga kepastian tanggung jawab terhadap waktu pengiriman barang.
Distribusi Berbasis Data
Menurut Arief, paradigma distribusi kini telah berubah. Distribusi tidak lagi sekadar memindahkan barang dari pabrik ke pasar, melainkan menjadi sistem koordinasi informasi ekonomi secara real time.
Dalam ekosistem tersebut, arus barang dikendalikan oleh arus data yang menghubungkan permintaan pasar, ketersediaan stok, perencanaan produksi, hingga sistem pembiayaan.
"IT hanyalah alat. Bisnis yang sesungguhnya adalah membangun ekosistem sumber daya yang terhubung dengan ekosistem keuangan," katanya.
Belajar dari China
Arief juga mencontohkan keberhasilan China membangun pusat logistik pertanian modern yang mampu mengintegrasikan petani, industri pengolahan, eksportir, perbankan, hingga pasar internasional.
Melalui sistem tersebut, petani memperoleh informasi harga dunia secara langsung melalui aplikasi digital. Komoditas yang disimpan di pusat logistik dapat dijadikan jaminan pembiayaan kepada bank sebelum barang terjual.
Sementara industri pengolahan memperoleh kepastian pasokan bahan baku dengan kualitas yang telah distandarisasi sehingga proses produksi menjadi jauh lebih efisien.
Model serupa, menurutnya, mampu menghilangkan praktik tengkulak, menekan biaya distribusi, memperkuat posisi tawar petani, serta menciptakan sistem perdagangan yang lebih transparan.
Indonesia Harus Kuasai Logistik Global
Arief menilai Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada perusahaan logistik internasional, terutama dalam pengangkutan komoditas strategis seperti batu bara, nikel, hingga gas alam.
Akibatnya, meskipun Indonesia mencatat surplus perdagangan barang, neraca jasa masih mengalami defisit karena sebagian besar aktivitas logistik internasional dikuasai perusahaan asing.
Ia mencontohkan banyak ekspor komoditas nasional yang masih menggunakan Singapura sebagai hub logistik dan keuangan internasional.
"Penguasaan logistik berarti juga penguasaan rantai nilai ekonomi. Negara yang menguasai supply chain akan mengendalikan perdagangan global," tegasnya.
Tiga Langkah Besar Reformasi
Dalam paparannya, Arief mengusulkan tiga agenda besar yang perlu segera dilakukan pemerintah.
Pertama, meningkatkan indeks logistik nasional melalui pembangunan jaringan kereta api logistik lintas pulau, penguatan angkutan laut, pelabuhan feeder, serta pembangunan pusat logistik modern berbasis digital.
Kedua, mengubah orientasi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar berfokus pada wilayah strategis jalur perdagangan dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar sehingga mampu menjadi pusat perdagangan internasional.
Ketiga, memperbesar investasi riset dan inovasi teknologi guna mendukung transformasi industri nasional menuju ekonomi berbasis teknologi dan nilai tambah tinggi.
ADHARA, Platform Masa Depan Supply Chain Indonesia
Puncak gagasan Arief adalah pembentukan platform digital nasional bernama ADHARA.
Platform ini dirancang mengintegrasikan sedikitnya 18 pemangku kepentingan logistik nasional ke dalam satu ekosistem digital yang menghubungkan eksportir, industri, perbankan, perusahaan logistik, pergudangan, kepabeanan, hingga lembaga pembiayaan.
Melalui ADHARA, eksportir dapat memperoleh dukungan pembiayaan berbasis Letter of Credit (LC) yang telah memperoleh endorsement dari platform tersebut. Seluruh rantai pasok mulai dari pemasok bahan baku, pabrik, distribusi hingga pengiriman barang dapat dipantau secara real time sehingga kepastian produksi dan pengiriman lebih terjamin.
Arief meyakini sistem tersebut akan menciptakan supply chain nasional yang lebih efisien, fleksibel, dan kompetitif.
Ia juga mengutip pandangan Profesor Zheng Yusheng yang menyatakan bahwa daya saing industri manufaktur modern tidak lagi ditentukan oleh murahnya tenaga kerja, melainkan oleh keunggulan rantai pasok.
"Semakin efisien supply chain suatu negara, semakin besar peluang industri dunia menjadikan negara tersebut sebagai basis produksi global," ujarnya.
Menurut Arief, apabila Indonesia mampu membangun ekosistem logistik yang terintegrasi, efisien, dan didukung sistem pembiayaan modern, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin kuat, ekspor meningkat, impor bahan baku dapat ditekan, cadangan devisa bertambah, dan ketahanan ekonomi nasional akan semakin kokoh.
Ia optimistis Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi pusat logistik dan manufaktur dunia, asalkan pembangunan dilakukan secara terencana, terintegrasi, dan berorientasi pada hasil.
"Indonesia memiliki potensi menjadi kekuatan ekonomi global. Yang dibutuhkan adalah kemauan besar untuk membangun sistem supply chain nasional yang modern, efisien, dan berkelas dunia," tutup Arief.(***)
Redaksi



